Nasib Supir Angkot

Pulang dari kampus saya naik angkota K22 kemudian nyambung lagi dengan 02 jurusan Kalimalang – Rawamangun. Waktu itu jam 8 kurang 10 menit. Karena kosong, saya langsung naik di depan. Soalnya di belakang nggak ada temen ngobrol. Angkot itu super kosong, cuma saya dan supirnya yang sudah tua dan kelihatan sangat lelah.

Karena kosong, saya tidak bisa menahan diri untuk bertanya. Pertanyaan retorikal dan basa-basi sebetulnya. “Sepi banget sewa bang?”. Si Abang hanya mengiyakan pasrah dan berkata bahwa sudah setahun belakangan ini angkotnya tidak pernah seramai dulu. Menurut si Abang, Rp. 20,000 dari Kalimalang ke Rawamangun saja sudah prestasi besar.

Tidak lama kemudian, si Abang ngetem. Saya cuma tersenyum getir ketika si Abang meminta maaf karena membuat saya, sang penumpang satu-satunya menunggu. Dia bilang, tidak mungkin saya membawa hanya satu penumpang ke Rawamangun. Ongkos sewa tidak sepadan dengan pengeluaran bensinnya. Lagi-lagi saya hanya tersenyum sambil berkata bahwa tidak apa-apa saya menunggu sebentar.

Baca lebih lanjut