Kritik tanpa solusi

Kritik tanpa solusi? Kedengerannya nggak enak banget ya. Tapi itu lebih baik daripada tidak ada kritik sama sekali.

Sebagai pengembang amatiran, saya seringkali dapat proyek-proyek kecil dan kebanyakan user hanya paham sedikit mengenai dunia teknologi informasi. Tugas saya adalah membangun aplikasi yang foolproof (siapa saja bisa memakainya dengan mudah).

Membangun aplikasi yang ramah pengguna bukan perkara mudah. Mewujudkannya ternyata membutuhkan banyak masukan dari sesama rekan pengembang. Tapi yang paling utama adalah masukan dari pengguna.

Pengguna seringkali memberi kritik tanpa saran.
Misalnya:
Mas, formnya kok susah banget ya?
Ini kok loginnya ga bisa ya.
Aplikasinya kayaknya enakan yang dulu deh.
Saya sudah daftar tapi kok email belum masuk ya.
Ini kok aplikasinya lambat ya.
Saya maunya X, yang Y dibuang aja.
dan lain-lain

Perlu diketahui, pengguna seringkali tidak tahu apa yang mereka inginkan dan tidak tahu cara kerja berbagai teknologi informasi dibalik layar. Dan seringkali kritik sulit dibedakan dengan makian. Tapi tidak apa-apa, berita baiknya adalah kita punya goal atau tujuan yang sama. Jadi, adalah tugas kita, pengembang untung membimbing mereka sehingga visi kita sebagai pengembang dan keinginan user sejajar menuju goal yang sudah ditetapkan.

Kadang-kadang, sebagai pengembang muda yang merasa ahli, ego kita super tinggi. Kita menganggap aplikasi buatan kita ini sudah keren, bagus, dan sesuai. Dikritik jadi kesal dan marah. Tapi jangan kuatir, itu semua cuma proses yang harus dilalui dengan kepala dingin.

Semakin sering berkomunikasi dengan user, semakin cepat pula kita menghasilkan solusi atas kritik-kritik tadi. Kritik adalah kemajuan bukan kemunduran. Jadi kalau ada yang kritik membabi-buta dan tanpa solusi jangan marah ya, ngopi dululah kalo lagi kesel.

Iklan

Sequel Drama Mini AADC dan Alternate Timeline

Tahun 2002 dulu ABG mana yang nggak nonton AADC di bioskop? Jangankan ABG, kami-kami yang pada kala 2002 dulu sudah tampak bijak bak pohon beringin tua juga gemar menontonnya. Drama remaja super cheesy masa pra cabe-cabean ini tampaknya juga menarik perhatian pria brewokan rekan saya pada waktu itu. Tidak tanggung-tanggung beliau menontonnya kalau tidak salah hingga 10 kali. Namun begitu, walaupun cheesy saya mendaulat kisah Cinta dan Rangga besutan Rudi Soedjarwo ini masih lebih baik daripada Twilight.

Setelah 12 tahun berlalu, Line yang saat ini ironisnya merupakan tools utama para cabe-cabean untuk bercengkerama sambil minum es buah membuat sebuah promo yang ciamik dengan mengutilisasi kisah Cinta dan Rangga. Dramanya sendiri sih tidak ada yang istimewa, cerita mengayun lambat dipadu-padankan dengan aksi menyentuh layar dimana Line sedang ditampilkan. Namun bagi saya dan sang pria brewokan, setelah 12 tahun menunggu, tentu saja kami menyambut baik periklanan dibalik kisah cinta non cabe-cabean ini.

Tapi tunggu dulu… apakah ini sequel atau alternate timeline? Membingungkan bukan saudara-saudara? AADC kan pernah punya sequel yaitu sinetron dengan Cinta yang lebih Ceking dan Rangga yang lebih sombong. Jadi AADC versi Garis ini sequel dari 2002 atau alternate timeline dari 2002? Saya lebih suka menganggap ini alternate timeline dari 2002.

Sebetulnya jika mengikuti versi Alternate Timeline, waktu 2002 dulu pas Rangga ke Amerika, beliau tidak pulang ke Jakarta karena membantu Avenger melawan Loki dengan menjadi staff ahli bidang puisi di lembaga SHIELD. Setelah Loki dikalahkan, barulah Rangga memiliki waktu untuk ke Jakarta dan kembali menemui cinta dan ibu-ibu AADC.

Untuk lebih jelasnya, waktu dan tempat kami persilakan untuk ikut menonton video berikut ini dan mungkin juga bisa memutuskan untuk menginstall aplikasi Garis tadi.

Encore

Kalau menurut wikipedia, encore adalah penampilan tambahan di akhir konser. Jadi ketika si penampil selesai manggung, doi masuk ke backstage kan, eh tiba-tiba penonton teriak minta lagi. Si penampil nanti nongol lagi bawain 1 lagi, bisa lagu andalan atau sesuatu yang berkesan dan bikin penonton serr serran. Encore bisa juga spontan atau memang sudah diatur supaya dramatis. Either way encore is a great thing. Filosofinya adalah karena kita jarang-jarang bertemu artis idola kita jadi a closure, a very dramatic closure is needed for us, fanatic fans. Setelah penutupan biasanya kita puas dan gimanaaa gitu.
Nah sekarang kita curhat, serrr.

Di dunia selain showbiz, encore bisa juga diterapkan. Misalnya kita makan nasi padang. Kadang-kadang kita ingin nambah tapi cuma nasi setengah aja kan? Nah itu sama, kita sebetulnya masih rindu sama nasi padang berbalur cincang dan sayur nangka, namun ketika nasi habis dan karena kita butuh semacam closure, jadinya kita nambah deh setengah supaya hati kita tentram dan puas. Setelah nasi yang setengah itu selesai pasti kita senyum-senyum gimanaaa gitu.

Ah sekarang lebih berat lagi. Bagaimana dengan dunia percintaan? SERRRR (pake huruf gede semua). Setelah kita putus ternyata kita nggak puas, bukan puas yang itu loh, jangan ngeres, kalo mau ngeres nonton aja xvideos. Nggak puas karena sepertinya kita belum ada closure, ada masalah yang belum terselesaikan, ada kata-kata yang belum terucap (ahhh sadisss), dan lain sebagainya. Nah untuk supaya kita bisa puas kita butuh apa saudara-saudara? Yaa benaar, ENCORE. Makanya ada juga sepasang kekasih (ah bahasa kita jijik) yang telah putus kemudian disambung lagi. Mungkin juga masih sayang, tapi saya yakin banyak juga yang balik lagi untuk mencari semacam closure, penutupan, kejelasan, dan WHY WHY lainnya. Setelah semuanya jelas dan akhirnya putus baik-baik, pasti nanti senyum-senyum sendiri dan gimanaaa gitu.

Aih jadi curhat di hari Ibu Kartini ini. Jadi apakah ada yang pernah encore semacam diatas? Cerita-cerita ya.

Galery Macet di Jakarta

Ah, kalau seandainya macet di Jakarta cuma gara-gara si Komo lewat solusinya sih gampang, cukup tembak kepala si boneka cengengesan itu hingga berhamburan pasti lancar lagi deh Jakarta. Tapi walaupun solusinya memang tidak semudah itu, masalahnya juga nggak rumit-rumit amat sebenernya. Cuma penyakit Pemerintah Kota Jakarta aja pada khususnya dan Indonesia pada umumnya. Moto mereka: “kalo bisa dipersulit kenapa dipermudah?”

Macet di Jakarta sudah diluar batas nalar dan kesabaran manusia biasa seperti saya ini. Saya memang jarang bepergian tapi masa saya mau naik sepeda pagi-pagi sambil cari bubur ayam jalanannya dah super macet, stop, berhenti, mandeg, sampai-sampai sepeda motor bisa di standar dua dan pengemudinya yang lucu-lucu itu sempat berdandan via kaca spionnya.

Jalan kurang dari 4 km biasa ditempuh santai 10-15 menit, tiba-tiba jadi 1 jam lebih. Padahal naik motor. Saya nggak akan berusaha menganalisa kenapa macet itu terjadi. Itu bukan tugas saya. Tugas saya cuma misuh-misuh di media bebas ini saja. Yang jelas masalahnya sederhana, banyakan kendaraan daripada jalannya.

Aneh Banget

Pernah nggak suatu waktu tiba-tiba sebuah rasa, nuansa, atmosfer, suasana, perasaan hati berubah tapi rasa itu nggak asing lagi. Rasanya seperti mundur menggunakan mesin waktu. Sekarang ini saya tiba-tiba merasakan nuansa SMU ketika saya memejamkan mata.