Galery Macet di Jakarta

Ah, kalau seandainya macet di Jakarta cuma gara-gara si Komo lewat solusinya sih gampang, cukup tembak kepala si boneka cengengesan itu hingga berhamburan pasti lancar lagi deh Jakarta. Tapi walaupun solusinya memang tidak semudah itu, masalahnya juga nggak rumit-rumit amat sebenernya. Cuma penyakit Pemerintah Kota Jakarta aja pada khususnya dan Indonesia pada umumnya. Moto mereka: “kalo bisa dipersulit kenapa dipermudah?”

Macet di Jakarta sudah diluar batas nalar dan kesabaran manusia biasa seperti saya ini. Saya memang jarang bepergian tapi masa saya mau naik sepeda pagi-pagi sambil cari bubur ayam jalanannya dah super macet, stop, berhenti, mandeg, sampai-sampai sepeda motor bisa di standar dua dan pengemudinya yang lucu-lucu itu sempat berdandan via kaca spionnya.

Jalan kurang dari 4 km biasa ditempuh santai 10-15 menit, tiba-tiba jadi 1 jam lebih. Padahal naik motor. Saya nggak akan berusaha menganalisa kenapa macet itu terjadi. Itu bukan tugas saya. Tugas saya cuma misuh-misuh di media bebas ini saja. Yang jelas masalahnya sederhana, banyakan kendaraan daripada jalannya.

Go Green yang Tidak Sombong

Go green berarti maksudnya ayo hijau atau berarti melestarikan lingkungan dan alam dengan tidak melakukan hal-hal yang negatif seperti membuang sampah sembarangan dan menggalakkan hal-hal yang positif seperti menanam tanaman (pastinya hijau warnanya).

Berarti kita semua tahu kan mengirit listrik juga go green? Malah waktu itu ada sebuah event yang amat eksklusif supaya kita mematikan listrik selama 1 jam. Event yang bagus dan berhasil mengurangi pemakaian bahan bakar yang digunakan untuk menghasilkan listrik. Tahu juga kan? bahan bakar yang biasa dipakai itu adalah fossil fuel yang tidak dapat diperbarui. Bahan bakar jenis itu juga menimbulkan polusi yang uhuk uhuk.

Tapi manusia itu (termasuk saya) adalah spesies yang membingungkan. Teknologi memudahkan kehidupan manusia seperti misalnya mobil, motor, pesawat dan komputer. Tapi semua pabrik yang dimaksud menghasilkan polusi yang super signifikan terhadap kehidupan di planet bumi ini. Manusia juga menyadari polusi yang ditimbulkan dari perbuatannya sendiri dan mulai menyerukan kampanye ayo hijau. Seakan-akan ingin menebus dosa, perusahaan-perusahaan pencipta asap dan limbah berbahaya itu juga ramai-ramai secara sistematis menempeli produknya dengan simbol-simbol hijau.

Kemudian media juga beramai-ramai menyerukan go green lengkap dengan concertnya. Ya, kali ini bertajuk Global Warming (Warming ya bukan Warning). Konser yang dimeriahkan puluhan artis ternama dunia itu maksudnya sih untuk menyadarkan kita bahwa melestarikan alam itu penting supaya tidak jadi panas yang global, kata salah satu artis. Tapi konser itu tentunya tidak murah kan? Berapa jumlah listrik yang habis dipakai dan sumber daya yang harus dihabiskan untuk mengadakan konser hebat semacam itu? Ah saya tidak bisa membayangkannya. Lagi-lagi fossil fuel kan yang harus dipakai? Yah begitulah dunia bekerja.

Menurut saya sih yang namanya go green itu tidak cuma simbol-simbol saja dan menulis status di facebook dan twitter atau membuat fan page dan mempromosikannya. Atau bahkan membuat website. Bukan juga membuat konser. Go green juga tidak hanya

  1. Tidak ganti-ganti handphone
  2. Tidak membuang sampah sembarangan
  3. Tidak membuang-buang air
  4. Memanfaatkan limbah untuk didaur ulang
  5. Makan secukupnya
  6. Tidak boros
  7. Sering berjalan kaki daripada naik kendaraan bermotor

Tapi go green lebih dari itu. Go green seharusnya menjadi cara hidup dan tujuan hidup dan harus sangat menyatu dan terpadu.