Nasib Supir Angkot

Pulang dari kampus saya naik angkota K22 kemudian nyambung lagi dengan 02 jurusan Kalimalang – Rawamangun. Waktu itu jam 8 kurang 10 menit. Karena kosong, saya langsung naik di depan. Soalnya di belakang nggak ada temen ngobrol. Angkot itu super kosong, cuma saya dan supirnya yang sudah tua dan kelihatan sangat lelah.

Karena kosong, saya tidak bisa menahan diri untuk bertanya. Pertanyaan retorikal dan basa-basi sebetulnya. “Sepi banget sewa bang?”. Si Abang hanya mengiyakan pasrah dan berkata bahwa sudah setahun belakangan ini angkotnya tidak pernah seramai dulu. Menurut si Abang, Rp. 20,000 dari Kalimalang ke Rawamangun saja sudah prestasi besar.

Tidak lama kemudian, si Abang ngetem. Saya cuma tersenyum getir ketika si Abang meminta maaf karena membuat saya, sang penumpang satu-satunya menunggu. Dia bilang, tidak mungkin saya membawa hanya satu penumpang ke Rawamangun. Ongkos sewa tidak sepadan dengan pengeluaran bensinnya. Lagi-lagi saya hanya tersenyum sambil berkata bahwa tidak apa-apa saya menunggu sebentar.

Padahal hari itu adalah malam minggu, hampir semua orang keluar rumah. Tapi hampir tidak ada lagi orang yang naik angkot. Kredit motor ringan dan tanpa DP membuat kendaraan umum tidak lagi diminati. Jadi ngetem bagi para supir angkot adalah hal yang wajar. Memang menyebalkan, tapi coba pikir. Supir angkot sekarang nasibnya bagaimana? Mau makan darimana? Banyak juga supir angkot yang sudah belasan tahun narik tapi tidak juga bisa hidup layak. Apalagi sekarang. Pertumbuhan motor mencapai angka yang sulit diterima akal.

Mencari solusi memang bukan hal yang mudah. Harus terjadi kesadaran dan rasa tanggung jawab terhadap sesama. Polisi mendapatkan pemasukan yang tidak sedikit dari pembuatan surat-surat sepeda motor itu. Perusahaan-perusahaan pembiayaan yang mengkreditkan motor-motor itu juga meraup kue keuntungan yang banyak. Dan yang paling untung tentu saja, produsen-produsen motor yang notabene bukan milik Indonesia. Rasanya hampir mirip masa penjajahan dulu. Bedanya dulu dijajah pakai mesiu sekarang dijajah pake mesin.

Bagaimana jika seandainya:

  1. Angkot adalah sarana transportasi yang nyaman (pasti menambah minat masyarakat untuk naik angkot, tapi sulit karena membutuhkan biaya yang tidak sedikit).
  2. Dibuat semacam mindset bahwa naik angkot adalah hal yang wajar (melalui berbagai media bisa ditampilkan bahwa naik angkot adalah hal yang biasa dan tidak memalukan, perlu dilakukan terus menerus).
  3. Kendaraan bermotor tidak hanya yang roda dua dibatasi (polisi nakal akan berkurang sabetannya dan banyak oknum yang akan menghalangi, jadi diperlukan metode yang sistematis untuk mengatasinya).
  4. Halte dan Terminal menjadi berfungsi kembali. Angkot dan kendaraan umum harus berhenti disitu dan penumpang harus naik disitu (bukan pekerjaan mudah tapi yang dibutuhkan sebetulnya adalah kemauan dari pemerintah dan rakyat sendiri).
  5. Memberikan subsidi dan bantuan untuk keperluan sarana transportasi umum (yang ini juga sulit, listrik yang amat krusial pun tidak jadi turun malah naik dan Presiden hanya meminta pengertian dari rakyat yang memang terpaksa selalu harus mengerti).

Mudah-mudahan tidak cuma mimpi di siang bolong jika Jakarta menjadi kota yang tertib, nyaman dan minim polusi. Amien.

2 thoughts on “Nasib Supir Angkot

  1. Ping balik: Tweets that mention Nasib Supir Angkot | Anggit Yuwono -- Topsy.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s