Home Sweet Home Part 3

Sambil tetap memegang handycam, secara naluri aku merapat ke sudut terdekat. Entah kenapa sudut rak display elektronik ini terasa nyaman. Suara klik pertanda kaset mini DV selesai di rewind membuatku tersentak dari lamunan.
Jari-jari tanganku yang berkeringat karena tegang menekan tombol play di flip LCD handycam. Suara handycam kembali memecah kesunyian.

Video yang tampil tampak biasa. Seorang sales sedang memperagakan cara menggunakan handycam tersebut. Seorang perempuan remaja sekitar 20 tahunan, kelihatannya calon pembeli, melambaikan tangannya ke arah kamera. Dari suaranya yang berat, sang sales terdengar seperti pria perokok.

Aku menekan tombol fast forward. Aku benar-benar tidak tahu apa yang ingin kulihat. Naluriku mengatakan bahwa ada sesuatu di rekaman ini.

Tombol fast forward kulepas, video masih menampilkan suara si sales dengan telaten memberikan tutorial singkat fungsi-fungsi tombol handycam. Kali ini gambar di video hanya menampilkan gambar di sekitarnya. Sepertinya kamera sedang diletakkan diatas rak atau meja.

Akhirnya sesuatu menarik perhatianku. Tampak di video, di kejauhan seorang pria sekitar umur 40an sedang menenteng keranjang belanjaannya. Walaupun kamera tidak fokus, aku tahu pria tersebut tampak kurang sehat. Tangannya terus menutupi mulutnya yang hampir tiap 2 detik selalu terbatuk.

Jalannya mulai limbung, badannya terhuyung ke kiri dan ke kanan. Akhirnya pria tersebut tidak mampu menjaga keseimbangannya lagi dan terjatuh.

Tanpa disuruh, para pengunjung di sekitarnya langsung menolong pria tersebut. Melihat ada kejadian menarik, tiba-tiba kamera langsung fokus pada kerumunan tersebut. Kamera tidak menangkap semua kerumunan tersebut karena tertutup rak berisi barang obral.

Tidak lama kemudian seorang petugas kesehatan dari pusat perbelanjaan sedang mencoba mengobatinya dan memberikan pernapasan buatan. Dari kejauhan tampak tangan si petugas menekan-nekan dada dan meniupkan udara ke mulut pria yang jatuh tadi.

Hampir 5 menit berlalu, tiba-tiba sesuatu yang mengejutkan terjadi. Kerumunan penonton bubar serempak menjauhi pusat kerumunan. Ada yang berlari, ada yang tersandung hingga terjatuh. Seorang ibu tampak terjengkang ke sebuah kotak besar berisi barang pecah belah obral. Suara-suara teriakan histeris dan kegaduhan tertangkap kamera handycam tersebut dengan jelas.

Hatiku mencelos melihat apa yang terjadi setelah kerumunan menghilang. Si petugas kesehatan sudah jatuh dengan muka hancur tak berbentuk. Darah segar mengucur dari mukanya. Tubuhnya mengejang-ngejang kesakitan, kemudian diam tak bergerak. Si pria sakit tadi tidak terlihat di video.

Kamera bergerak liar dan bergoyang, kelihatannya mencoba mencari si pria sakit. Beberapa detik kemudian suara erangan keras terdengar di speaker. Kamera masih bergerak-gerak liar hingga tiba-tiba berhenti pada satu arah.

Dari balik sebuah gerai TV besar, sesosok tubuh berjalan menyeret perlahan dan menampakkan dirinya. Si pria sakit tadi. Tubuhnya pucat dan pandangannya kosong. Di mulutnya, darah segar menetes membasahi lantai mall. Suaranya seperti sedang mengejan dan menggeram.

Sedetik kemudian, si pria sakit tersebut langsung menoleh ke arah kamera dan berjalan cepat ke arah si sales. Barang-barang display ditabraknya begitu saja. Matanya mendadak nanar sambil mengatup-ngatupkan mulutnya dan membiarkan giginya beradu.

Si sales yang ketakutan langsung lari dan menjatuhkan kameranya. Aku tidak tahu nasib sales itu. Aku hanya bisa mendengar teriakan histerisnya. Kamera yang masih merekam itu terjatuh dan mengarah ke si petugas kesehatan.

Tubuhnya yang sudah diam tadi tiba-tiba bergerak perlahan. Tangannya bergerak-gerak, pelan-pelan badannya mulai bangkit dengan posisi terduduk. Darah masih menetes dari mukanya yang sudah tidak memiliki bagian hidung dan sebelah mata. Dengan gontai, kakinya mulai berusaha menopang tubuhnya. Akhirnya si petugas tadi berdiri. Walaupun pelan karena jauh, aku mendengar suara erangan, sama seperti suara si pria sakit tadi.

Tiba-tiba layar menjadi biru. Kamera berhenti merekam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s