Home Sweet Home Part 2

Tanpa pikir panjang, aku langsung masuk melalui pintu utama. Walaupun gelap dan dengan cahaya seadanya, aku tahu di sekitarku berantakan. Keranjang-keranjang belanja warna biru dan merah berserakan di sana-sini. Troli-troli berisi barang belanjaan juga banyak bertebaran, terguling, rodanya rusak dan pegangannya patah. Para pengunjung kelihatannya terburu-buru meninggalkan troli mereka.

Hypermart seperti juga Carrefour dan Makro memiliki gerai-gerai besar dengan layout yang kurang lebih sama. Berdasarkan asumsi itu aku langsung menuju ke arah kanan pintu masuk. Aku mencari gerai elektronik. Siapa tahu aku menemukan sesuatu yang berguna, senter besar barangkali.

Aku masuk lebih dalam lagi di bagian gerai elektronik. Tidak ada suara apa-apa disitu kecuali napasku yang mulai memburu. Aku mulai takut, adrenalin membuat perasaanku tidak karuan. Jantung berdegup keras. Entah kenapa tiba-tiba aku merasa tempat ini tidak aman. Aku terus berjalan perlahan menyusuri rak-rak tinggi besar berisi tivi-tivi berukuran jumbo.

Setelah melewati rak kulkas-kulkas yang letaknya berseberangan dengan rak TV, akhirnya aku menemukan rak perkakas. Bagian perkakas berada persis di balik rak-rak berisi kulkas. Disitu aku menemukan senter. Langsung saja aku mengambil 3 buah senter berukuran sedang. Aku tidak ingin senter yang menghambat gerakanku. Aku membutuhkan keranjang. Tidak jauh dari situ aku melihat troli terguling.

Langsung saja aku masukkan ketiga senterku dan aku mulai berbelanja lagi. Kali ini aku butuh baterai senter, sebuah senjata, mungkin pisau atau golok. Atau sebuah pipa besi. Aku tahu tempat ini ditinggalkan bukan tanpa sebab, aku lebih membutuhkan keamanan daripada makanan. Untungnya semua kebutuhanku ada di dekat situ. Aku langsung meraih beberapa baterai besar dan sebuah golok bergagang kayu.

Setelah aku mendapatkan yang kuinginkan aku langsung bergegas menuju pintu tempat aku masuk tadi. Melewati kulkas dan menyusuri rak-rak tivi. Suara decit roda troli menjadi satu-satunya sumber suara di situ.

Perhatianku tiba-tiba langsung menuju ke arah rak kamera digital dan handycam. Bukan, aku tidak tertarik dengan handycam mahal yang berada di dalam etalase. Aku tertarik dengan handycam yang terjatuh di lantai dekat etalase. Flip displaynya terbuka. Secara naluri, aku langsung mendekati dan memungutnya kemudian mencoba menyalakannya.

Belum sampai sedetik aku menyalakan, display memperlihatkan icon warna merah tanda baterai habis kemudian mati. Tanpa disuruh aku langsung mengambil handycam yang dipajang diatas etalase kemudian menarik baterainya.

Dengan baterai baru aku menyalakan handycam yang aku pungut tadi. Kaset habis, aku harus me-rewindnya. Suara motor handycam memecah kesunyian di kegelapan itu. Aku tidak tahu harus berharap apa di kaset ini. Yang jelas aku cuma ingin tahu apa yang direkam handycam ini di saat-saat pemilik terakhir memegangnya.

– To Be Continued –

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s