Home Sweet Home Part 1

Aku tidak tahu kenapa tiba-tiba mendapatkan diriku terbangun di antara tumpukan pakaian-pakaian ini. Kepalaku pusing, berarti mungkin aku pingsan karena terbentur sesuatu atau ada yang memukulku dari belakang. Yang jelas ruangan ini gelap gulita. Ada sedikit cahaya kedip-kedip di depan sana, mengingatkanku akan kebiasaan burukku berkunjung ke club tiap akhir pekan. Mungkin itu juga yang membuatku merasa sudah terbiasa dengan perasaan pusing ini. Alkohol dan terbentur kurang lebih sama.

Aku bangkit perlahan, menyingkirkan pakaian-pakaian yang menghalangi langkahku. Bahan yang halus dan nyaman, pasti ini pakaian mahal. Entah kenapa tiba-tiba aku memikirkan itu.

Cahaya kedap-kedip itu tidak jauh letaknya dariku, sekitar 10 meteran. Karena situasinya gelap gulita, secara naluri aku menuju cahaya itu. Pelan-pelan aku melangkah sambil meraba-raba. Kedua tanganku mengarah ke depan seperti orang buta tanpa tongkat. Lagi-lagi aku merasa menyentuh kain-kainan. Halus dan rapi. Aku tersandung tapi tidak sampai jatuh. Karena penasaran aku jongkok dan mencoba mencari tahu apa yang membuatku tersandung. Karena tidak bisa melihat, aku hanya mengandalkan tanganku. Aku meraba-raba dengan sedikit gugup… hatiku mencelos tangan. Aku memegang tangan. tapi sial, cuma patung. Aku mengumpat setengah berbisik.

Pasti aku sedang di toko pakaian. Aku sedikit lupa apa yang terjadi sebelum aku pingsan. Yang aku ingat waktu itu ramai dan panik. Kemudian gelap, sampai sekarang juga masih gelap. Tidak ada bedanya aku pingsan dan tidak.

Akhirnya aku sampai di sumber cahaya kedip-kedip tadi. Ternyata sebuah lampu neon dari kios kecil penjual minuman Lemon Tea yang letaknya di seberang toko pakaian setelah pintu keluar toko. Starternya kendor. Aku memutarnya sedikit, akhirnya lampu menyala dengan benar. Aku bisa melihat di sekeliling kios Lemon Tea itu dengan jelas. Di samping kios, sebuah rak DVD bajakan terlihat berantakan. Film-film berbungkus plastik itu tersebar di sekeliling lantai. Di sebelah kios DVD, terdapat 3 buah kursi pijat refleksi. Kursi paling ujung terguling menimpa sebuah X-Banner bertuliskan; Pijat refleksi Rp. 5000 per 15 menit.

Di depan kursi-kursi pijat itu 3 buah motor matic dipajang di samping etalase berisi handphone-handphone merk Cina. Aku mengambil beberapa telepon itu dan mencoba satu-satu. Tidak, aku bukan ingin menelepon. Handphone-handphone ini belum terdaftar dengan provider. Aku hanya mencoba mencari handphone dengan fitur lampu senter.

Akhirnya aku menemukannya. Dengan cepat aku melihat sekeliling dan berjalan perlahan sambil memetakan ruangan itu dengan cahaya senter. Senter handphone itu tidak begitu terang, tapi setidaknya membantuku menentukan arah.

Sebuah tulisan besar kuning berlatang belakang biru terlihat suram di cahaya yang seadanya ini. Hypermart, aku di supermarket.

— To Be Continued —

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s