Money for Dummies

Gold Coins

Gold Coins

Kita semua tahu bahwa uang adalah alat tukar yang sah dan dapat digunakan untuk membeli berbagai keperluan dari yang konsumtif (berbelanja) hingga yang produktif (investasi). Tapi sebetulnya bagaimana sih asal muasal orang menggunakan uang kertas yang kalau dilihat nilai intrinsiknya (nilai produksinya) tidak ada harganya sama sekali?

Saya sih tidak akan menceritakan sejarah uang, sejarah cuma bikin ngantuk. Buat yang mau tahu, mungkin bisa Googling. Pasti ketemu. Saya cuma ingin memberikan sedikit pengetahuan tentang konsep uang kertas.

Nah, saya mau berdongeng dulu…

Zaman dahulu kala manusia melakukan barter alias pertukaran barang dan / atau jasa untuk bisa memenuhi kebutuhan hidup. Hidup di zaman ini sangat sederhana. Amir adalah pengrajin kursi yang membutuhkan beras untuk memberi makan dirinya dan keluarganya. Karena Amir bukan petani beras, maka Amir pergi ke Badu yang petani beras untuk memperoleh beras. Amir cukup menukarkan kursi buatannya dengan beras yang dia butuhkan dari Badu. Ya, kebetulan saat itu Badu yang baru saja membangun rumah membutuhkan sedikit furniture untuk ruang tamunya.

Lain lagi dengan Ucok yang keahliannya memperbaiki dan membuat gerobak. Pak Ali yang gerobaknya rusak membutuhkan jasa Ucok dan membayar Ucok dengan ikan-ikan hasil tangkapannya. Gerobak diperbaiki dan Ucok bisa makan ikan. Di zaman ini mereka semua saling membantu dan tidak pernah ragu untuk menolong. Mereka juga tidak memikirkan apakah nilai barang A lebih kecil dari barang B, dan sebaliknya. Mereka hanya memikirkan fungsi barang itu. Selama kebutuhan terpenuhi, mereka santai-santai saja.

Beberapa tahun kemudian..

Logam mulia (emas, perak, dan perunggu) ditemukan. Karena bentuknya yang indah dan berkilau dan lebih berat daripada logam biasa, dengan cepat logam mulia digunakan sebagai alat tukar di zaman ini. Yang memiliki emas, perak atau perunggu boleh menukarkannya dengan sekarung beras misalnya. Yang tidak memiliki logam mulia masih tetap melakukan barter. Di zaman ini perlahan-lahan barang dan jasa mulai dinilai (di-benchmark) dengan logam mulia. Tapi jangan kuatir, barter masih tetap bisa dilakukan bagi mereka yang tidak menambang logam mulia.

Perekonomian di zaman ini sangat maju. Mereka selalu bergotong royong mengerjakan berbagai fasilitas. Ketika salah satu dari mereka membutuhkan pinjaman, ada saja yang dengan senang hati memberikan pinjaman. Mereka pasti mengembalikan dengan jumlah yang sama dan pasti akan berbuat hal yang sama jika ada yang membutuhkan.

Lama kelamaan….

Logam mulia menjadi lebih mudah dicari dan akhirnya banyak beredar, perdagangan antar wilayah pun bisa dimungkinkan dengan adanya logam mulia yang diakui dimana saja. Namun ternyata, membawa logam mulia kemana-mana ternyata sangat merepotkan. Tentu saja merepotkan karena lebih berat dari logam biasa.

Akhirnya timbul ide untuk menitipkan logam-logam mulia yang berat itu di balai desa. Mereka percaya Pak Kades yang kharismatik dan bijaksana itu pasti mau menyimpan logam-logam mulia itu. Tentu saja warga-warga yang baik hati itu tidak begitu saja menitipkan di rumah Pak Kades. Mereka bersedia membayar jasa penyimpanan karena telah merepotkan Pak Kades. Sejumlah kecil logam mulia masing-masing penyimpan langsung dipotong untuk keperluan Pak Kades membangun semacam lumbung penyimpanan logam mulia.

Untuk mempermudah administrasi Pak Kades memiliki cara yang jitu. Ketika seorang warga bernama Aji menyimpan misalnya emas sebanyak 100 keping, maka Pak Kades membuat sebuah surat pernyataan yang menyatakan bahwa warga tersebut menyimpan emas sebanyak 100 keping. Surat pernyataan tersebut dibuat dengan sangat rapi dan diberi tanda resmi dari Pak Kades. Pak Kades juga membuatnya sebanyak 2 salinan. Yang asli diberikan ke sang pemilik dan salinannya disimpan di lumbung sebagai bukti kepemilikan emas. Pak Kades memberi nama surat itu dengan nama “Sertifikat”.

Suatu hari Aji ingin membeli seekor kerbau untuk keperluan membajak ladangnya. Kebetulan kerbau itu pas sekali harganya sejumlah 100 keping emas. Akhirnya, alih-alih Aji menukarkan sertifikat miliknya ke lumbung di rumah Pak Kades, ditukarkannya sertifikat itu dengan kerbau yang diinginkannya. Aji mengatakan kepada sang penjual untuk menukarkan sertifikan itu dengan emas senilai 100 keping di tempat Pak Kades.

Akhirnya… uang kertas pertama telah lahir di desa itu.

Selanjutnya: Kredit dan bunga pembawa bencana.

One thought on “Money for Dummies

  1. Ping balik: Tweets that mention Money for Dummies « Anggit Yuwono -- Topsy.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s