Musik Cerdas Dan Kurang Cerdas

Ketika bekerja sebetulnya saya tidak terlalu suka mendengarkan musik. Menganggu konsentrasi. Tapi keadaan ruang kerja a.k.a rumah yang sepi cuma ditemani dua ekor Gecko bernama Brintil dan Jagung Bakar yang notabene tidak bisa berbicara membuat saya mencoba mendengarkan musik sambil bekerja.

Piilhan musik saya ketika bekerja adalah yang mudah didengar dan tidak berisik, kira-kira sekitar 50 – 60 db dengan volume standar. Akhirnya lama kelamaan saya mulai terbiasa mendengarkan musik sambil berpikir yang rumit-rumit, seperti membuat ekspresi dan kondisi menggunakan berbagai operator logika.

Dan kalau diamati ternyata lagu-lagu Indonesia yang meng-encourage otak untuk tetap optimis dan tidak malas sangat sedikit. Hmm, saya coba mendengar lagu-lagu ST12, Kangen Band, The Potters, dkk.. ternyata tidak membuahkan hasil. Saya sih nggak bilang kalau lagu mereka tidak bagus. Cuma perasaan saya yang sangat awam musik ini kok tidak merasa nyaman mendengarkannya. Musiknya typically cuma drum, gitar, bass, kadang-kadang ada keyboard dan melodi yang kurang lebih sama satu sama lain. Pendek kata saya tidak berhasil bekerja sambil mendengarkan lagu jenis ini.

Kemudian saya mencoba mendengarkan jazz yang katanya rumit dan sulit dicerna. Dengan pesimis saya mencoba lagu jazz-jazz standar yang saya kenal seperti Al Jarreau. Ternyata mengejutkan, while I enjoyed the music, at the same time I completely ignored the music…  thus I can work. Dan efeknya ternyata menyenangkan. Rasanya seperti mendengarkan tapi tidak terganggu dan karena nadanya yang dinamis, saya semangat bekerja.

Tapi saya penasaran dengan lagu-lagu lainnya. Saya dengarkan satu demi satu lagu dari berbagai genre. Dan ternyata masalahnya bukan di genre tapi di cara para pembuat musik itu menciptakan dan mengaransemen lagunya. Kalau dilihat-lihat lagu itu sebetulnya kumpulan deretan algoritma dan logika. Coba lihat deh, buat musisi handal yang sudah berpengalaman, membaca sebuah partitur saja bisa tahu lagu tertentu itu bagus apa tidak. Nggak masuk akal kan? Lagu itu kan harus didengar, yet they can feel it just by reading the partiture. Otak mereka memproses algoritma partitur itu secara simultan dan membayangkannya menjadi sebuah lagu.

Otak sebetulnya bekerja sangat logis dan memiliki keteraturan dalam kekacauan. Rangsangan musik yang tepat jelas akan memacu kerja otak. Jadi saya bisa bilang, musik yang baik dan diaransemen secara cerdas akan merangsang kerja otak. Dan sebaliknya musik yang diaransemen malas-malasan akan berpengaruh kurang baik pada cara kerja otak. Dan semakin di “tickle” otak kita akan terus minta “tambah” oleh hal-hal yang cerdas.

Nah, masalahnya rata-rata musik Indonesia kebanyakan yang seragam dan tidak demokratis itu tidak menggelitik otak kita untuk kreatif. Jadi, mendengarkan ST12 dan Kangen Band sambil bekerja ternyata sangat annoying, dan membuat otak malas.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s